manfaat jadi model sex.





manfaat jadi model sex - .Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan sexy. Tetapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan, "DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL..." Aku tertarik dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.

Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih...
"Namanya siapa Mas..?" katanya.
"Sony, Mbak.." kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
"Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?" katanya lagi.
"Ini Mbak.." kataku sambil menyerahkan KTP.
"Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya... Mas jalan aja lurus, terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!" katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.

Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk. Pasti mereka tidak lulus test... aduh aku jadi takut dan badanku jadi gemetar tidak karuan.
Lalu.., "Mas Sony..." tiba-tiba ada suara memanggil namaku.
Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari 'anu'-nya.

"Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya..?" katanya.
"Belum pernah Mbak... Saya baru aja datang dari desa..." kataku lugu.
"Ooo... sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?" katanya.
"Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau diapain..?" kataku.
"Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..! Ya.., ayo cepet gih buka bajunya... sini biar kami bantu." katanya sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya yang satunya melepaskan celanaku.

Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua yang cantik itu. Gundukan batang ******ku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.
"Wow, besar juga ya ****** Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks sebelumnya..?" tanyanya ketika melihat gundukan ******ku di balik celana dalamku.
"Belum pernah Mbak... Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang gituan..?" kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik dengan batang kejantananku yang lumayan besar.
"Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih 'hijau' pengalamannya..."
"Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman... khan lebih banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya..." kataku.
"Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah... sekarang saya mau ngetest ****** Mas... ok..?" katanya sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya mendekatiku.

Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow.., ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan... ohhh.., terpampanglah bentuk nonoknya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi terangsang, dan akhirnya batang ******ku menegang dan bertambah besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menempelkan nonoknya ke gundukan batang ******ku. Ohhh.., batang ******ku bertambah keras saja mendapatkan perlakuan seperti itu.

"Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu temennya..." katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku.
Seketika itu juga batang ******ku berdiri dengan kokohnya bagaikan "Pedang Nagapuspa".
"Aduh Mas.., ******nya besar sekali... eehhmmm..." katanya lagi sambil mengurut batang ******ku.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dia terus dengan lembutnya mempermainkan ******ku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang ******ku.
Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Nonoknya yang dikelilingi bulu bulu jembut lebat itu ditempelkannya di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.
Lalu.., "Jilatin dong Mas Son... eehhmm..." katanya memelas.
Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah nonoknya. Tercium bau khas nonok wanita dewasa, dan kujulurkan lidahku menjilati nonoknya yang sudah basah oleh lendir itu. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya yang berwarna merah kecoklatan dan sudah tegak sekali menantang.
"Oh... yesss..., jilat terus Mas.., ohhh.. yess..!" katanya sambil tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu bulu yang tumbuh di ketiaknya yang lebat sekali.
Mbak ini sungguh maniak sekali.

Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, "Aaahh... ohh.. yesss... aargghh..," lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke nonoknya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang ******ku yang tambah mengeras.
"Lagi Mas... arghh.. sshhh.. yah.. yah.. lagi.. oohh.." makin menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum itilnya yang berwarna kemerahan dan tampak sudah mengeras itu dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang nonoknya. Bau cairan wanita dewasa semakin keras tercium. Nonoknya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang nonoknya. Kujilati semuanya.

"Ohhh.. God... Bener-bener hebat kamu Mas Son... ahh... ngak kuat lagi deh untuk berdiri... shitt..!" dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang ******ku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas ******ku. Dan, "Bless..." dimasukkannya ******ku pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.

Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang ******ku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari nonoknya dan ******ku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang.
Dia kemudian mengerang, "Ooocchhh... aachhh... yesss..!"

Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya, dan batang ******ku di nonoknya, dia setengah berteriak bilang, "Mas Son.., aku mau keluar.., ohhh... yesss..!"
Dia berhenti naik turun dan menekan nonoknya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa lubang nonoknya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan nonoknya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan keluar.
"Please.., give it to me, I want to feel it inside me.." katanya menjawab desahanku tadi.

Semprotan pejuku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan dengan semprotan itu, dia bilang, "Aku keluar lagi Mas Son.., oocchh.. it so gooddd..."
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan batang ******ku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang ******ku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan nonoknya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya melingkar di pinggangku dan ******ku tetap berada di dalam nonoknya.
Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, "Terima kasih Mas... Mas Sony memang perkasa."

Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang ******ku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang ******ku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang ******ku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan cepat batang ******ku menjadi keras lagi, dan dia berkata, "Mas Son, please fuck me from behind."
Dia terus membelakangiku, dan pantat serta nonoknya terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan batang ******ku, kujilat dulu nonoknya dan lubang pantatnya. Tercium bau yang sangat khas dan sangat merangsang di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
"Boleh juga nih cewek.." kupikir.
Cairan lendir birahi dari nonoknya mulai membasahi bibir nonoknya, ditambah dengan ludahku.

Dari ujung ******ku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan ******ku ke lubang nonoknya, dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas, dari bawah nonoknya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo Mas.., masukkan ******nya... please now." katanya sudah tidak sabaran.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan ******ku ke nonoknya. Dengan posisi ini aku bergerak memasuk keluarkan ******ku.

Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, "Mas Son aku mau keluar, kita sama-sama Mas... ohhh... yesss..!"
Nonoknya diperkecil dan memijat ******ku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.

Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.
Tetapi tiba-tiba.., "Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja kok malah tidur. Ayo bangun..!" tiba-tiba suara itu muncul.
Aku terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian.
Ketika aku mau berpakaian, "Kamu anak muda... cepet masuk dan jangan dipakai dulu bajunya... kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo cepet masuk ke ruanganku..!" katanya.
Setelah itu aku masuk ke ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.

Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar. Saat muncul opening scene, disitu tertulis, "SEX Intertainment, Ltd"
"Aduh..! Pasti film biru.." pikirku.
Dan ternyata benar, isinya film BF, judulnya "Daun Muda". Disitu adegan antara cewek seusia tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang kemaluan para cowok-cowok muda.

Karena terangsang, aku mengelus-elus batang ******nku yang sudah tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk malu sambil melihat batang ******ku yang mulai mengecil.
"Kamu suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar cowok yang masih hijau Sayang..."
Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.
"Eee... siapa namanya tadi..?" katanya.
"Sony, tante.." kataku.
"Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?" katanya.
"Eeee... cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung." kataku.
"Satu apa dua.. hayooo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu ngeseks juga khan..?" katanya.
"Oh... ya.. ya... Sony lupa... hee.. heee..." jawabku sambil menatapnya.

Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari kedua mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik itu duduk di sebelahku. "Tante tadi lagi buang air, tapi terus terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu ya..?"
"Ya Tante.." kataku.
"Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu Sayang..?" tanyanya.
"Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante." kataku.
"Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?" katanya."Ya Tante... cuman itu." kataku.
"Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?" katanya lebih mengorek.
"Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante..." kataku.

"Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang... Tante akan menolong kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?" katanya.
"Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi.." kataku.
"Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng.." katanya.
"Kok namanya aneh Tante... apa maksudnya nama itu..?" tanyaku.
"Begini sayang, 'Nyi' itu 'cewek dewasa', terus 'Ringin' itu 'pohon beringin' atau bisa dimaksudkan 'hutan', yang artinya bulu-bulu di tubuh Tante, di ketiak, di kemaluan, dan lain-lain... terus 'Ireng' itu 'hitam'. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam... begicu Sony, ngerti khan..?" katanya.
"Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex tingkat tinggi..?" kataku.
"Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan..."

Tangannya memegang kedua pipiku, "Son kamu ganteng dech..."
Lalu kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.
"Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!" kataku.
"Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan benar.." katanya seraya mencium bibirku.
"Ayo peluk Tante, Sony sayang..!"
Lalu aku mengangguk, terus memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu House.

Lalu tante kembali menghampiriku.
"Sony sayang..," bisiknya.
"Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!"
Lalu kupeluk Tante Juliet dengan erat.
"Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?" kataku.
"Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya Tante." katanya sedikit bermanja.
"Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?"
Aku agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.
"Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!"
Lalu adegan pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante Juliet mulai bergetar.

Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya perlahan.
"Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!" dengusnya.
Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia menggeliat.
"Nikmat sekali Sayang... kamu pinter Son..!" bisiknya sambil matanya tetap terpejam.
Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut, lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.

"Apa lagi sekarang, Tante..?" bisikku.
"Ayo ciumi leher Tante yang jenjang ini Sony sayang..!" katanya.
Lalu kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..! seperti tidak percaya melihat bulu bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba kedua ketiak itu.

"Nggak pernah dicukur ya Tante..?" kataku penasaran.
"Sony sayang, seorang cewek yang bulu ketiaknya lebat itu berarti nafsunya tinggi sekali sayang... Coba kamu rasakan nikmatnya..." katanya.
Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..! Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu bertambah dengan bulu bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku terangsang sekali, sehingga batang ******nku tambah menegang. Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.

Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna kecoklatan.
"Ayo remas susu Tante, Son..!" katanya.
Lalu kuremes pelan kedua susunya.
"Oh yesss..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!"
Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan puting dan payudaranya.
"Tante, Sony suka ketiak berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante juga, ehm..."
Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.

Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam. Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah membentuk celana dalam. Itu pasti bulu bulu jembutnya yang dia bilang seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.
"Sony sayang, kamu pingin liat 'hutan Kalimantan'-ku yang lain ya..?"
"Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?" kataku.
Lalu aku menciumi pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana itil dan labia mayoranya.

"Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo... do it..!" katanya.
Berkat tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang itil, mana yang labia mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari nonok yang berjembut lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu bulu jembut lebat itu makin terlihat jelas.
"Ayo sekarang buka CD Tante... please..! Tante udah nggak tahan nich..!" katanya.
Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos, lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan aroma yang khas dari nonoknya itu.

"Stop Son... Tante udah nggak tahan Son..!" katanya.
Tiba-tiba dia melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..! Luar biasa, benar dugaanku... bulu bulu lebatnya membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu jembutnya menutupi vulva. Kusibakkan bulu jembutnya itu, lalu tampaklah vulva yang berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu bulu nonoknya yang sedikit basah itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba itilnya yang menyembul keras dan agak gelap itu.
"Ohhh... hhmmm... kamu nakal ya..!" katanya.

Batang ******ku kian menegang, kulihat ada tetesan pejuku. Aku menghela nafas.
"Sekarang giliran ******mu ya, Sayang..?" kata Tante Juliet yang kemudian duduk di kursi kerjanya itu.
Aku yang dari tadi sudah telanjang dengan batang ****** yang menegak lalu mendekat ke tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus dipandanginya batang ******ku. Tante Juliet langsung menggenggam batang ******ku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia mengukur panjang batang ******ku.
"Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku..." katanya.
Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.
"Panas sekali punyamu Son.." bisiknya mesra.

Tidak lama kemudian, batang ******ku mulai dilahap oleh Tante Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Tante Juliet menyedoti ******ku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang ******ku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat ******ku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan ******ku dengan dinding mulut Tante Juliet membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.

"Ohhh... yesss... Tante sungguh hebattt... ohhh... Tante udah ya... Sony nggak tahan nich..!" kataku.
Kami menuju sofa, terus duduk berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan keningnya. Terus dia berdiri.
"Mau kemana Tante..?" tanyaku.
"Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut punyamu.."
Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang lebat itu terlihat samar. Ohhh... pantatnya yang bulat dan besar itu seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi susunya yang besar itu, ohhh...

Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar ke sofa, sama-sama diam.
"Gimana Tante, udah segar sekarang..?" tanyaku.
"Ya dong Sayang... aduhhh... punya kamu koq kecil lagi..?" katanya sambil mengelus ******ku, dan aku hanya tersenyum.
"Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!" katanya sambil terus berdiri di depanku.
Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.
"Ohhh.. yeesss... teruskan Sayang... ohhh... sedeppp.. ahhh..!" katanya.
Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir nonoknya yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di nonok yang lebat dengan bulu bulu keriting itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.

"Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!" katanya.
Dengan lembut kugesekkan lidahku ke itilnya, lalu labia mayoranya. Aku merasakan begitu banyak cairan lendir yang keluar.
"Ayo sayang sedot cairan Tante... ohhh.. yeess..!" katanya sambil mendesis.
Lalu langsung saja aku menyedotnya, "Slurping.., lumayan juga ya Tante... segar juga.."
Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan nonok wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya dibukanya lebar-lebar.

"Ayo sayang, bikin Tante keluar... ohhh... yesss..!" katanya.
Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat, sehingga terkuaklah bagian bibir nonoknya. Kujulurkan lidahku ke liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas dibuatnya.
"Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan nich..!" katanya.
"Ya Tante, maafkan Sony..." kataku.
"Ayo Son, tunggu apa lagi... cepet bikin Tante keluar..!" katanya sambil mendesis lagi.
Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan bibir nonoknya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Itilnya mengeras, seperti biji kacang garing, seakan akan berkata .. ini kacangku.

Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke itilnya yang mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan seperti yang diajarkan Tante Juliet.
"Ahhh... yesss.., nikmat.., terus dong Sayang..!" katanya.
Sekarang lidahku mulai bermain dengan kecepatan tinggi, itil itu kujilati terus... terus... dan terus... hingga tubuh tante bergetar hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir permukaan nonoknya.

"Ouhh... yesss... Son... kamu pintar deh..." katanya.
Lalu aku sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang ******ku yang sudah tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohhh... lalu naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohhh... setelah itu dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohhhh... dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohhhh... nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang ******ku dan tangan satunya memijit-mijit telur kembarku. Aahhh... aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dia memasukkan batang ******ku ke mulutnya, dia hisap batang ******ku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang ******ku masih berada di dalam mulutnya. Terasa ujung kepala ******ku menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Semua batang ******ku ditelan oleh Tante Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah ******ku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang ******ku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji pelirku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar, dan kubilang sama Tante Juliet, "Tante... Sony mau keluar... ohhh..."
Dikeluarkannya batang ******ku dan bilang, "Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony... hhhmm..!"
Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.

Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi, sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang ******ku.
"Punya kamu enak Sony sayang... Tante suka..!" katanya.
Lalu kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup rambut rambut lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku tertutup jembut jembut yang lebat itu.

"Tante, Sony udah nggak tahan nich..!" kataku memohon.
"Sabar dong Sayang... biar Tante yang memasukkan ******mu, ya..?" katanya.
Lalu tangan tante memegang ******ku, dan membimbingnya ke lubang kenikmatannya.
"Tekan disini Son... pelan-pelan yaaa..!"
Lalu dengan hati-hati dia membantuku memasukkan ******ku ke dalam liang senggamanya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
"Aaa.. sabar Sayang... oohhh... pelan-pelan Son..!" tangan kirinya masih menggenggam batang ******ku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.
Aku merasakan batang ******ku diurut-urut di dalam liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tetapi tangan tante membuat ******ku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang ******ku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.

Kemudian kudorong batang ******ku masuk sedikit lagi, "Ohhh.. yeess.. ohhh... ssshhh.. aachh... ohhh.. Sayang..!" kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya ******ku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, "Lho koq berhenti.., ayo goyang lagi donk Son..!" katanya.
Lalu aku menggoyangkan ******ku keluar masuk di dalam nonoknya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.

Tiba-tiba kurasakan bibir nonoknya menjepit ******ku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas susunya sendiri.
"Ohhh... ohhh... Sayang.., Tante udah mo keluar nich... sshh... aaahhh.." katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin tidak beraturan, "Kamu kuat sekali Sayang..!" sambungnya.
Aku semakin mempercepat goyanganku.
"Aaahh... Tante... keluar Son.., ohhh... endanggg..!" dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot.
Aku juga merasakan bahwa aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, "Ahhh... sshhh... ohhh..!" kusemprotkan pejuku ke dalam liang senggamanya.
Lalu kucabut batang ******ku dan terduduk lemas di lantai.

"Kamu hebat Sayang... udah lama Tante nggak pernah klimaks... oohhh..!" katanya girang.
"Ohhh... Sony cape' Tante.., udah tiga kali baginian... uhhh..!"
Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan batang kejantananku dengan lap.
Sambil membersihkan ******ku, dia berkata, "Son.., kamu belum selesai ditest... sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya..?" katanya.
Dia terus membelakangiku dan pantat serta nonoknya terlihat merekah dan basah, tetapi bekas-bekas pejuku sudah tidak ada.

Sebelum kumasukkan batang ******ku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat bersih. Cairan dari nonoknya mulai membasahi bibir nonoknya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung ******ku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan batang ******ku ke lubang senggamanya, dan menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, nonoknya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!"
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang ******ku ke lubang nonoknya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang ******ku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, "Son.., Tante mo keluar nich..!"
Lalu bibir nonoknya diperkecil dan memijat batang ******ku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan yang sebelumnya.
"Sony.., kamu benar-benar hebat... kamu lulus Sayang..!" katanya sambil memeluk dan mencium bibirku.
Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami

pemerkosaan malu-malu tapi mau


Cerita pemerkosaan





 pemerkosaan malu-malu tapi mau - Naya At Hotel Room
Aku dah mau pulang kerja waktu hujan turun lebat bgt… Benernya aku malas pulang, tapi mulut ini dah ga tahan pengen ngemil… Karena ga tahan, aku paksain juga... Aku jalan ke tempat parker buat ambil mobil honda jazz kesayanganku… Pelan aku starter mobilku dan aku mulai jalankan mobilku meninggalkan area parkir….

Sambil menyetir, aku kebayang lagi kisahku semalam… Aku dientot ama cowok yang baru aku kenal…. Aku kebayang ****** besarnya… Enaknya ****** itu waktu sedang kocokin memek chubby ku…. Uhhh… sampe sekarang masih kerasa enaknya…. Sementara itu diluar hujan sudah mulai turun dengan lebatnya… Membuat suasana tambah dingin… Hmmm… enak banget kalo ******* sekarang, pikirku… Aku mulai merasa memek ku mulai lembab.. Apalagi aku pakai CD Brokat mini warna hitam, yang talinya kecil dan Cuma bisa nutupin lubang memek ku aja… talinya nyelip di belahan pantat besarku… Jembut lebatku sudah pasti keluar… Uhh… aku butuh ****** sekarang…. Pikirku nakal..

Tiba tiba mobilku kerasa tersendat dan mati mesinnya… SHIT…. Kenapa lagi nih mobil… Mana di luar lagi hujan lagi…pikirku kesal… Dengan sisa2 tenaga, aku minggirkan mobilku di tepi jalan supaya ga bikin macet…

Nekat aja aku keluar.. Basah basah deh…. Kemudian aku buka kap mobilku… Aku periksa mesinnya, aki nya…. Baik2 aja kok, pikirku.. Apanya neh… Aku masuk lagi n coba starter mobilku…. Tapi ga mau nyala mesinnya !!! Gimana neh… Mana bajuku basah semua lagi…. Aku keluar lagi buat periksa mesin mobilku….

Tiba tiba ada mobil menepi… Naya!!!... Aku dengar ada suara cowok yang panggil namaku… Dan aku menoleh… ternyata cowok yang semalam ngentotin aku!!!.... Ohh, steve.. Thanx God.. seruku… Kenapa mobilmu nay?, tanyanya… Ga tau neh… Tau tau aja mesinnya mogok, jawabku… Bentar yah, aku liat dulu… N dia mulai periksa mesin mobilku…. Trus dia coba starter lagi… ternyata tetap ga mau hidup mesin nya…. Nay, coba masuk bentar… Kemudian aku masuk… Sambil senyum2, steve nunjukin ke dashboard mobilku… Nay, kapan sih terakhir kamu isi bensin? Tanyanya… OOhhhh… ternyata aku lupa isi bensin mobilku… Aku jadi ngerasa malu banget!!!... Ya udah, gini aja… gimana kalo kamu ikut aku aja.. Mobilmu ditinggal disini aja… Ntar kita cari bensin dulu buat isi mobilmu ini, kata steve… Aku ga liat ada alternative lain.. Akhirnya aku iyakan aja ajakannya… Dari pada bengong disini.. Mana hujannya tambah lebat lagi, pikirku…

Akhirnya aku pun masuk kedalam mobilnya dan duduk disampingnya… Uhh.. aku kedinginan neh, steve.. Ya udah, kamu ikut aku ke hotel tempat aku menginap, sementara kamu ganti bajumu pake bajuku aja, biar kamu ga masuk angin Nay, kata Steve..

Sesampainya di kamar hotel tempat steve menginap, aku diberi kaos oleh steve… Neh nay.. kamu pake aja kaosku dulu… Di pojok situ kamar mandinya, sambil dia menunjukkan letak kamar mandi… Thanx, steve.. kataku… N aku pun berjalan ke arah yang ditunjuknya.. Sampai di kamar mandi, aku mulai membuka kancing seragam n rok kerja ku yang dah basah… Duh, mana CD dan Bra ku juga basah semua lagi, pikirku… Akhirnya aku buka juga Bra n CD brokat hitam ku… Duh dinginnya, pikirku…. Apa aku mandi air hangat aja yah, supaya ga sakit kena air hujan?... Kemudian aku mulai menghidupkan keran air hangat shower… Di dinding kamar mandi itu, ada kaca besar… Iseng aku berdiri berkaca… Hmmm putting toketku yang merah dah berdiri ngaceng… Pelan aku usap putingku.. Uhhh… kok enak banget sih..!! Aku semakin kuat meremas toket kiriku… Aku kebayang ada tangan cowok yang meremas toketku ini… Ooouuhh… Enaknya…. Kemudian tangan kiriku pun turun kebawah buat meraba memek ku yang jembutnya lebat…. Hmm.. nikmat…. Pikirku…. Aku butuh ****** sekarang!!!.. Tiba tiba terdengan suara steve memanggilku… Nay… sudah belum mandinya? Gantian dong, aku juga mau mandi… Aku kedinginan neh…. Uppss.. ternyata dia juga mau mandi… Gimana kalo aku ajak dia mandi bareng yah?, pikirku nakal… Cepat cepat aku selesaikan mandiku… N keluar hanya memakai kaos nya steve.. Untung aja kaos ini agak panjang sampai sepaha ku… Jadi dia ga bakal tau aku ga pake bra n cd lagi di dalamnya….

Waktu aku keluar, aku terhenyak… Ternyata steve hanya memakai handuk!! N aku yakin, dia ga pakai apapun dibaliknya… Aku bisa liat bulu dada nya yang lebat… Kebayang lagi semalam, waktu dia lagi ngentotin aku.. Aku kegelian waktu putting toketku bergesekan ama bulu dadanya… Pengen rasanya aku raba bulu dadanya dan jilat putingnya yang kecil…. Hehehe…

Kenapa nay? Kok bengong gitu? Tanyanya… Ga kok… Ga ada apa apa, jawabku… Waktu dia melewati aku, ga sengaja pinggulku kesenggol ama kontolnya yang keliatan menggembung besar di balik handuknya… Uppsss… Sorry, steve… kataku…. Hehehe… Gpp lg nay… Semalam kan kamu udah kenalan ama dia, jawabnya sambil tersenyum… Dan dia pun masuk ke kamar mandi dan menutup pintu…

Terdengar suara gemericik air… Hmm.. ternyata jadi mandi juga dia, pikirku… Aku pun berbaring di ranjang satu2nya di kamar itu… Tanpa terasa aku ketiduran… N aku kebangun karena aku merasa ada kulum putting toketku… Pelan2 kesadaranku pun timbul.. Hmm… enaknya kuluman steve, pikirku sambil pura2 tidur… Aku merasa kaosku disingkap ke atas oleh steve… Pasti dia lagi menikmati indahnya tubuhku… Tubuhku emang indah n sexy banget… Toketku yang putingnya merah n kecil… Memek ku yang chubby tertutup ama jembut lebat… Pantatku yang montok… Dulu pacar2ku sering banget ngentotin aku dari belakang sambil meremas buah pantatku atau toketku yang gelantungan.. Kadang ada yang meremas dan memilin toket n putingku bahkan sampai ada yang menampar sampai buah pantatku jadi merah… Gemes kata mereka… Hehehe….

Sementara itu, aku merasa ada yang naik ke ranjang.. Hmm… mulai naik dia, pikirku… Pelan2, dia mulai menjilati telingaku… Lidahnya yang kasar mulai menjilati daun telingaku, sambil tangannya tetap membelai toketku…Aku berusaha agar tidak mengerang.. soale aku termasuk cewek yang berisik kalo dikontolin… hehehe.. Sekarang tangannya gentian memebelai toketku yang kiri… diusap pelan bgt… aku jadi merinding…aku yakin precum memekku pasti dah keluar n membasahi sprei yang aku tiduri… Sekarang dia mencumbui leherku.. dijilatnyaa leherku yang jenjang n mulus ini… Ouhh.. aku dah ga tahan.. aku harus balas perlakuan dia ini… Aku pura berubah posisi tidurku.. dari yang telentang sekarang menyamping menghadap dia…. Tiba2 dia mulai kulum bibir merahku… n aku merasa lidahnya mulai masuk ke dalam mulutku… seakan dia akan membelit lidahku… Cukup sudah!!, pikirku… Aku mulai membuka mataku.. dan dia tersenyum memandangku… aku pun memeluk tubuhnya dan mulai membalas pagutan lidahnya… Hmmm… aku mulai balas cumbuannya… Ouh, steve… Cumbu aku, saying.. Cupangi leherku, desahku mulai liar…. N dia pun kembali menjilati kulit leherku yang putih dan jenjang…Darahku pun berdesir semakin kencang ketika dia mulai menjilati leher dan meninggalkan cupangan di leherku…. Tak tahan, aku pun jambak rambutnya.. n aku balik dia supaya dia dibawah.. Setelah itu, aku pun dengan liarnya mulai membalas perlakuannya… Aku pun mulai menjilati telinganya… Nayyyy… Oouuhh… Gelii banget, saying… erangnya… Tapi aku tidak peduli… Aku ingin menaklukkan dia… Aku mau dia yang memohon supaya kontolnya yang nakal tapi enak itu bisa masuk ke memek ku… Sambil aku kulum telinganya, tanganku pun tidak tinggal diam… Aku mulai nakal mengelus bulu dadanya yang lebat… Aku juga menggesekkan putting toketku ke dadanya yang lebat itu…. OOOhhhh… Steveeee…. Sexy banget bulu dadamu, sayang, desahku tak tahan… Sambil aku tetap menggeliat diatasnya… Terus aku permainkan toketku di sana… Pelan, aku juga mulai sentil putting toketnya yang kecil…. Sayyyyaaaannnngghhhhhhh!!!!!... Erangnya kegelian.. Tapi aku tak peduli… Bahkan tanganku pun mulai turun ke perutnya yang rata, aku elus n aku belay….Pusarnya aku permainkan… N tampak dia menggeliat hebat menahan rangsangan di tubuhnya…. Aku pun mulai berpikir nakal… Perlahan aku mulai gesekkan memek ku pahanya yang berbulu juga… Stevvee… gellliiii sayangg… desahku.. Tapi pinggulku tetap tidak berhenti menggesekkan memekku disana…Oouhh nayaa… Nikmat bangettt… ujarnya…. Tapi tanganku tak berhenti disitu… Tanganku terus turun kebawah… Ufff… Kontolnya dah ngaceng keras bgt, begitu tanganku menyentuhnya… Nayyyaaa… Mau kamu apain kontolku ini, sayanngghhh!!!, katanya tak tahan…. Diam kamu!!.. bentakku… Aku mau mainin kontolmu yang nakal ini… Supaya dia bisa puasin memekku.. kataku kasar… Yah, sayang… terserah kamu… terserah kamu…Naya sayang… Steve milik Naya… Steve milik NAAAYYYAAA… erangnya keras… soalnya, jariku yang lentik, mulai mengelus lubang kontolnya… Sudah basah disana.. Aku melihat kontolnya dah mengeluarkan precum yang membasahi kepala kontolnya… Uffhh.. aku semakin horny melihatnya… Pelan jariku mulai menggenggam batang kontolnya.. Aku kocok perlahan.. sambil aku mulai jilati pusarnya… Diapun tak tahan.. Nayyaaa… terusin, sayang… Hisap kontolkkuu!!!! Please…. Erangnya…. Tapi aku tidak mau.. aku mau permainkan birahinya…. Aku pengen dia yang mengemis minta aku ngewekin dia….Perlahan lidahku sampai di jembutnya yang lebat.. aku jilatin jembutnya sampai basah oleh ludahku… Perlahan jariku meremas pelirnya… Hmm.. besarnya, pikirku… Pasti pejunya juga banyak.. Aku emang suka cowok yang kalo orgasme bisa keluarin peju yg banyak… Aku suka memekku dibasahi n dibanjiri peju ama cowok yang aku entot!!... Aku juga suka minum peju… Rata2 cowok yang pernah kontolin aku, pasti pernah aku minum pejunya waktu mereka lagi orgasme…

Sayaaanngg… entot aku… Please… Aku ga tahan, desah steve….Tapi aku tetap ga berhenti mainin pelir n ****** besarnya… Enakk ga steve?, tanyaku binal.. Enak sayang… Enak banget.. desah steve…. Mau yang lebih enak lagi ga? Tanyaku lagi… Yahhh… AKu mauuu naya… Aku mau sayangg, erangnya…. Pelan aku selipkan tanganku di bawah pantatnya yang padat.. dan lidahku pun mulai menyapu pelirnya… naik lagi ke batang ****** besarnya… Ouhhh… Aku suka kontolmu steve, kataku… Oh ya?? Kamu suka ****** besarku, sayang? Tanyanya… Yah… Liat neh, aku lagi jilatin.. Aku malah memasukkan ****** besarnya ke mulutku… aku kocok kontolnya pake mulutku.. biar dia tau, kalo mulutku ga kalah isepannya ama memekku… Naaayyaaa… Ennnaakkk!!!!, desahnya…. Aku tau dia pasti bilang begitu, soalnya tiap cowok yang pernah aku isep kontolnya pasti ga tahan ama isepan mulutku di kontolnya….Ga kalah enak empotannya ama memekku!!!... Aku tau dia sudah ga tahan… tapi aku ga perduli… malah sekarang aku remasin buah pantatnya…. Dia pun membalas dengan mengangkat pinggulny tinggi2… Begitu dia dah stabil… lidahku pun mulai menjilati lubang pantatnya… Sayaaannggg…. Apa yang kamu lakukan???.... OOOuuuggghhh…. Sambil dia jambak rambutku… Tapi aku tak peduli… tetap aku jilat lubang pantatnya sambil aku tetap kocokin ****** besarnya… Sayannngg… pleaseee… udaaahh… akuu ga tahaann!!! Kata steve…. Apa maumu sekarang HAH??!!!, kataku liar… Entot aku, sayang… ENTTTOOTT AKUUU NNAAAYYAAA!!!!, jeritnya liar…. Hmmm, kamu mau pake aku, steve? Kamu mau entotin pepek ku ini? Tanyaku lagi…. Yah, sayang… aku mau *******.. aku mau pepekkkk… erangnya tak tahan…Tapi kamu harus janji, kataku sambil mulutku terus kulumin kontolnya…. Janji apa, nayaaahhh?? Katanya… Kamu harus siap ngentotin aku, kapanpun aku mau… n kamu harus datang tiap kali aku panggil buat *******, gmana? Tantangku… Iya.. Iya… aku mau naya… aku mau kamu buat aku jadi pejantanmu, jawabnya…Ya… aku mau kontolmu yang nakal ini Cuma buat aku, kataku lagi… Sekarang entot aku naya!! Desahnya… Neh, aku entot kamu steve, ujarku sambil naik ke atasnya… Batang kontolnya pun aku genggam n gesek ke itil n memekku.. Ouchh.. Memekku langsung berkedut kencang terkena gesekan kontolnya… Pelan, aku mulai tempelkan kepala kontolnya itu ke lubang memekku.. Aku goyang pelann.. Dan perlahan aku mulai turunkan pinggulku.. Aaaahhh… desah kami hampir bersamaan….

Terasa licin banget lubang memekku waktu kontolnya mulai masuk n membelah memekku.. Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku di atas tubuhnya… Steevveee.. eennaakk gaa, sayaanngghhh.. Desahku… Ouchh…. Enak banget say…. Terusin…. Entot aku naya… desahnya keenakan… Hmm… yach… steve… rasakan kontolmu keenakan… kataku sambil semakin keras menggoyangkan pinggulku diatasnya… Yah… Ouhh… Terus sayang… goyang pinggulmu… goyang pinggullmu naya….. racaunya… Hmmm… kamu suka aku entot sayang? Desahku… Yesss… naya…. Terus… katanya… Aku pun semakin liar diatasnya… Aku benar2 pengen menaklukkan cowok yang kontolnya besar n enak ini…. Tubuh kami mulai mengeluarkan keringat… Sehingga terlihat berkilat terkena lampu kamar hotel sehingga semakin menambah gairah birahi kami berdua yang sedang berpacu mengejar birahi… Uhh, aku merasa benar2 jadi pemuas cowok yang sedang aku entot ini… Ak mulai berpikir untuk menguasai dia dan ****** besarnya ini… HHmmmm….

Pinggulku semain liar… Dan toketku jg bergoyang dengan liarnya seirama hentakkan tubuhku yang naik turun diatas tubuhnya…. Steveehhh… OOhh… panggillku… Yah, sayang… enakk?? Katanya… Uhhggg… isep putingku steve … Tanpa butuh waktu, dia pun menerkam toketku dan mulai mengulum putingnya, sementara tanganya meremas toketku yang kanan… Ouuwww… kamu nakaaalll!!! Jeritku keenakan…!!! Tapi dia diam sambil terus menetek di toketku yang kenyal ini…. Terus sayangg… Hisap toketku… Pilin putingnya pake lidahmu….. N dia pun benar2 melakukan itu… Putingku benar2 dipilin…. Tiba2 aku merasa ada jari yang menggesek itilku…. Steve…. Apa yang kamu lakukan!! Desahku…. Tapi dia tetap diam karena mulutnya tetap menetek di toketku… sekarang jarinya mulai memilin itilku… Aku tambah keenakaann dibuatnya…. STTEEEVVEEEE… AMMPPUUNNN, sayang…. Jeritku keenakan… tapi dia tak peduli… Akibatnya aku merasa orgasme ku mulai dekat… jepitan memekku aku perkuat… goyangan ku diatasnya pun semakin liar… rambutku sudah acak2an.. aku sudah berulang kali mendesah n mengerang tidak karuan… Oughh.. Enak bgt kontolmu steve… Enak KONTOLLL!!!!... Jeritku…. Hmmm… yah, sayang… enak kan kontolku, tantangnya… Iyahh… Yahhh… Enak banget kontolmu steveee… desahku…. Dan aku pun merasa orgasme ku semakin dekat…. Aku pun semakin mempercepat goyanganku… Oughhh… Steve… Aku mau keluar, sayang… Pejuku mau keluarr steeevvvveee… rengekku tak tahan… Tapi steve malah memperkuat hisapannya di toketku, malah sekarang dia juga ikut menggoyangkan pinggulnya sehingga memekku semakin terasa diaduk2 oleh ****** besarnya… Aku ga tahan, steve… kataku… tapi dia tidak mau peduli… gesekan jarinya di itilku semakin cepat… malah tangannya yang kiri mulai meremas buah pantatku yang besar dan kenyal…. Plakkk!!!!.... Aku terkaget, karena dia tiba2 menampar pantat besarku… bukan Cuma itu saja, aku juga merasa jari tengahnya mulai mengelusi lubang pantatku… Ougghhhh steveeee…. Nikmat banget, sayang…. Erangku…Plakkk!!!... Plllakkk!!!... rupanya dia menampar pantatku lagi.. Oughhh… sayang… desahku keenakan… tapi dia tak peduli… kulihat dia memaksaku mengulum jari tengahnya… dan kemudian aku merasa jari tengahnya mulai digesekkan di lubang pantatku… Sayang… mau kamu apain pantatku, sayang… tanyaku sambil tetap bergerak liar diatasnya… Diam aja kamu!!, bentaknya lagi… Aku hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu… Karena orgasme ku sudah semakin dekat.. aku hanya bisa menggoyangkan pinggulku… tiba2 aku merasa rasa nikmat yang amat sangat yang berkumpul di memekku… STEVVEEE…. AKKKUUU …. MMMAAAAUUU…. KKKEEELLLUUAAARR…. SAAAYYYAAANNNGGGG…. Jeritku keenakan… yah, keluarin naya… keluarin peju nikmatmu itu, bisiknya di telingaku…. Aku tak tahan lagi… aku mau keluar… Dengan ganas, aku jambak rambutnya… aku paksa dia memperkuat kulumannya di toketku… STEEVVVEE… AKKU KELLUUAARRR…. Jeritku…. terasa pejuku keluar.. menyemprot membasahi ****** besarnya… Tiba2 selagi aku orgasme tadi, jari tengahnya masuk ke lubang pantatku… aku pun semakin merasa keenakan… seakan dientot 2 ****** sekaligus…. Orgasme semakin kuat akibat tusukan jarinya di pantatku… Ougghhh… stevveee… desahku lemas seteleh orgasme tereenak sepanjang hidupku… Dan aku pun ambruk di dada bidangnya….Lemas sekali rasanya tubuhku… Belum pernah aku orgasme seenak dan sepanjang ini… Kemudian steve pun membelai punggungku yang basah oleh keringat… Hmm… nyaman banget rasanya… Tak terasa aku hampir tertidur… Tiba2 tubuhku didorong dan di buat menungging di atas ranjang… kedua tanganku dipaksa berpegangan di ujung kepala ranjang… Ougghh… Mau kamu apakan aku lagi, steve… Aku masih lemas.. pintaku menghiba… Diam kamu!!! Sekarang aku yang mau entotin pepek mu ini, dengusnya liar…. Oohh… Aku sudah membangkitkan gairahnya… Pasti aku bakal dihajar habis2an sama ****** besarnya, keluhku…

Perlahan dia mulai menggesekkan ****** besarnya di lubang memekku… Dan.. bleeessss… memekku terbelah seperte mentega panas… n kontolnya seperti pisau panas… Ugghhh… aku menggeliat merasakan sodokan kontolnya di memekku… Dia pun mulai mengocok kontolnya di memek ku sambil tangannya berpegangan pada pinggulku… Uhhh… steve…. Nikmat banget, desahku… Yah… Kamu bakal aku kasi kenikmatan sex, naya… Lebih dari cowok2 yang pernah ngentotin kamu dulu, katanya… Yach, sayang… entotin aku… ancotin pepek ku ini.. erangku… Dia pun semakin liar menusuk memek ku dengan ****** besarnya… Aku sudah tidak bisa apa2 lagi… Aku hanya bisa mengerang dan mendesah keenakan dientot sama pejantanku yang perkasa ini… Duh… aku merasa memek ku kembali becek lagi… Stevee sayaangghh… enaakk kontolll… erangku… Apa, sayang??katanya… KONTOLLLL…. KONTOLL ENAKKK… erangku keras…. Mendengar aku seperti itu, dia pun semakin kuat mengocok kontolnya di memekku dari belakang…Uhh… kasari aku, steve… aku suka kalo cowok yang ******* aku mau kasari aku, desahku… Enah kenapa, saat ini aku pengen dia kasari aku… Aku pengen dia tampar buah pantatku.. jambak rambutku… remas n cubit toket n itilku… Duhhh…. Nikmat banget emang dientot sama cowok ini, pikirku… Steve…. Desahku… Yachh… Nayaaa… Enaakkk??? Katanya… Ouwww.. Enak banget kontolmu steve.. jawabku… N dia pun semakin kuat dan kasar kocok kontolnya di memek ku… Tiba2 aku merasa, tangannya mulai meremas toketku yang gelantungan dari belakang…. Duhh…. Putingku jadi semakin keras…. STEVE.. ENAAKK… SAYAANGG… desahku keras…. Neh.. aku entot kamu, sayang… liat neh, lubang memekmu jd besar aku entot!!!.. katanya… Aku ga peduli… Aku mau Kontol… KONNTTOOLLL … lolongku keenakan…. Dia pun semakin kasar ******* memek ku… ****** sapa paling enak ngentotin memek mu, naya?? Tanyanya sambil terus kasi ****** di memek ku…. Kamu steve… kontolmu yang paling enak…. Jawabku… Yah… ****** steve…. ****** steve paling enak… desahku…. Mendengar itu… dia pun semakin kuat lagi… Aku juga bisa merasakan kalo aku bakal orgasme lagi… kenikmatan itu semakin dekat… n semua berkumpul di memek ku yang lagi dientot cowok ini.. Naya, aku mau keluar…. Aku ga tahan… memek mu enak banget….desahnya…. Yah…. Ayo steve … kataku… Dia pun semakin tidak tahan…. Aku bisa merasakan kontolnya membesar di memekku… dan tak lama kemudian… NAYAAA… Aku kellluuarrrgghhh…. Jeritnya… dan bersamaan itu, aku orgasme… OUGGHHH… STEEEVVV…. Aku keluar lagiiiii…. Desahku keenakan…. Akhirnya peju kami tumpah di lubang memekku… terasa banyak dan hangat membasahi pahaku yang masih menopang tubuhku yang menungging…. Dan tak lama kemudian, dia pun ambruk di punggungku… Tak terasa kami tertidur akibat nikmat orgasme… Sebelum tertidur, aku sempat melirik jam… ternyata hampir 2 jam aku dientot ama ****** cowok ini, kataku dalam hati…. Setelah terbangun, aku memakai baju seragam kerja ku kembali… Bra dan Cd ku tidak kupakai lagi… Steve kemudian mengantarku untuk mencari bensin buat mobilku, dan mengantarku kembali ke mobilku… Setelah mengisi bensin di tangki mobilku.. Kita sempat berciuman sebentar.. dan tangannya yang nakal sempat meremas toket, pantat dan memekku dari luar seragam yang aku kenakan…Setelah bertukar no hp, kita berpisah dengan membawa kenangan orgasme terindah…

cerita mahasiswi perawan dari palembang


cerita mahasiswi perawan dari palembang - Aku mahasiswi
Ella, itu nama-ku sebagai seorang Mahasiswi di Jakarta, Dunia malam, Drugs, n sex Bukan barang aneh apalagi Haram bagi-ku, Apalagi Lingkungan Perkuliahan-ku di Daerah Grogol, Jakarta Barat, Yang memang terkenal sebagai tempat kuliah Mahasiswi Bayaran...

Umurku 19 Tahun,Dengan Wajah Cantik Khas Oriental, dan Tinggi 165 dgn berat 50 kg,..Agak Langsing memang..Tapi itu yang disukai oleh pria-pria sekarangkan...Mungkin aku sdikit aneh, aku sangat menyukai diperhatikan oleh lelaki-lelaki..Aku enyukai tatapan mereka yang seolah menginginkan sesuatu dari-ku, karena itu bagi-ku, berpakaian ketat dan agak terbuka adalah hal biasa, bahkan dengan pakaian itu aku bisa menggoda Dosen-dosen Lelaki ku..
I like that...

Oh iya, Asal ku dari Palembang, aku tidak memiliki saudara disini, aku datang bersma 6 teman-ku, 4 cewe dan 2 cowo..Namun memasuki semester ke-3 ini aku sudah jarang kumpul dengan mereka, selain kbiasaan Dunia Malam-ku mungkin mereka tidak dapat mengimbangi kehidupan-ku yang mewah..
Ya tentu saja, aku merupakan anak wanita 1-1 nya dari 3 bersaudara..Ayahku pun seorang pengusaha kontraktor yang cukup terkenal di Palembang..Jadi Hidup mewah adalah satu keharusan bagiku, dan itu dapat terpenuhi oleh keluarga-ku..

Jadi aku melakukan SEX bukan karena uang, tapi karena didasari oleh suka-sama suka...Ya walaupun SEX pertamaku kulakukan waktu aku baru beranjak 2 SMA, Ya Crist pacar-ku waktu itu yang melakukan-nya pertama kali, SEX yangberkesan memang, apa lagi bertepatan dengan Sweet seven-teen ku, Romantis sekali..Tapi ya lelaki semua buaya..

---------------------------------------------------------------------------------------------------

"Hey Guy's, Lu orang mau Cabut gak tar malam?, Gw BT nh td bis Kuis jadi gw ga cabut kemaren" Tanya-ku dengan manja, pada teman-teman cowoku..
"Ah, Gw ga bisa La, besok gw yang kuis, Jam A lagi, gmana gw mau cabut.." Jawab Bernard, Temanku ini yang paling tampang diantara 3 teman-nya yang lain loh, Karena itu aku paling dekat dengan-nya..

"Ah Payah lu, Tar gw cabut ma sape donk??","Dah lu ke Cro** aje, si Roy Ma Adhie pade mau kesana, Lu tau kan dia yang mana, kemaren ini kan kan dah gue kenalin, cuma lu ati-ati aja ma si Adhie, dia BD soal-nya" Jawab Roy..

"Ah gue males lah ma mereka, Sama lu aja ya Ben,Pleaze...." Minta-ku dengan nada yang lebih manja...Namun tampaknya usaha-ku sia-sia karena Bernard yang memank terancam DO itu sudah membulatkan tekad untuk Kuis besok..Akhirnya setelah ngbrol sebentar, akupun meninggalkan Bunderan itu, untuk kembali ke kost ku..

Pukul 8 malam, setelah aku makan malam, aku mencoba menghubungi beberapa teman-ku untuk, menemani aktivitasku...Tapi memang saat ini menjelang UTS, sehingga kami sedang sibuk dengan kuis-kuis..

"Ah, BT dech gue" pikirku,"Yawdalah, gue cabut aja ke Cro**, seengak-nya disitu da yang gue kenal"..Setelah membulatkan tekad untuk memenuhi hasrat ku..Akupun berganti baju...Dan bergegas menyalahkan mobil Jazz merahku, dan meluncur kesana...

Setelah sampai ternyata informasi dari Ben jitu, di salah satu sofa disana
Roy dan Adhie bersama beberapa teman-nya yang tidak kukenal duduk disana, beruntung Roy melihat-ku, dan memanggil-ku kesana..Untung saja, kan malu kalau harus tiba-tiba kesana...

"Ma siapa lu La?" Tanya Roy, diselinggi derasnya suara dari speaker-speaker besar yang berjejer itu.."Ga gue sendiri, tadi sih janjian ma temen gue, tapi kayaknya ga jadi dateng deh,.."..Jawab-ku sedikit berbohong,.."Ya lu disini aja ma kita-kita, nanti kalo temen lu dateng ya laen cerita, lu enjoy aja dulu disini.." Sahut Adhie.akupun hanya mengangguk saja,Sebenernya aku ga terlalu suka ma Adhie, Penampilanya yang kurus hitam, dengan rambut cepaknya plus piercinganya itu, benar-benar seperti pemakai...

Kami pun bersulang tequila yang sudah dipesan tadi, kami pun menikmati suasana sambil minum dan berdance...Mereka terus memaksa-ku minum, sepertinya mereka menikmati sekali melihatku minum,..

Sebenarnya kepalaku sudah mulai pening, namun karena mereka terus menyoraki-ku menambah keinginanku untuk terus mengak alkohol dosis tinggi itu...Namun beberapa gelas kemudian aku pun mulai muntah...Dan sangat pusing, setelah itu aku tak ingat lagi...

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah tersadar, aku sangat kaget, aku tak tahu ada dimana saat itu,namun seperti di sebuah Hotel. Aku berusaha mencari Roy dan Adhie di sekeliling kamar itu, namun terdengar suara air dari arah Toilet..Mungkin Roy di Toilet pikirku..

Namun belum hilang rasa pusing dan kaget-ku, seorang Lelaki tua berumur 50 tahunan, dengan kulit hitam dan perut buncitnya,dengan hanya handuk hotel menutupi bagian bawah pinggangnya,melangkah keluar dari Toilet itu...Tidak apa maksud semua ini..Dimana Roy dan Adhie Jahanam itu..

"Sudah bangun manis, Kali ini si Adhie itu bisa milih cewe juga" Katanya sambil tersenyum, menatap tajam kearah-ku...
"Siapa lu..Mau ngapain, Lu pikir gue apaan...Gue mau pulang" Seru-ku sambil berusaha berdiri dan berjalan melangkahi lelaki pendek gendut itu...

"Hay mau kemana lu,...Gue dah bayar mahal buat lu!!!" Teriak lelaki itu, sambil menarik dan langsung menamparku...Aku tertegun atas perlakuan-nya..Air mata mulai muncul dari ujung mata-ku..Sebelum sempat bereaksi lebih jauh..Dia sudah menjambak rambut-ku dan menindih-ku di ranjang...

Dia terus mencumbui-ku, perasaan ku saat itu sangat jijik sekali, namun tenaga ku tak mampu untuk mendorong tubuh besar-nya..Dia terus menciumi leher, bibir dan telinga-ku..

Tangan-nya pun mulai berani menjelajahi daerah dadaku yang masih terbalut kaus putih ketat itu..Sambil terus mencumbui-ku, dia menarik baju ku keatas..."Bajingan lu pikir lu sapa...Dasar (maaf) Pribumi.." amuk-ku,..Namun lagi-lagi sebuah tamparan melayang ke pipiku..

Pria itu-pun tampak dingin sambil membuka bra 36B ku yang berwarna pink itu..kini dai mulai merabahi bagian dada tubuh-ku itu...Jilatan di daerah puting-ku, dan permainan tangannya memberikan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelum-nya..Sakit namun juga nikmat..

Dia pun menyingkap handuk-nya, sebuah kemaluan yang cukup besar
( kira-kira 16 cm ) menyembul, tapi ukuran diameter penis itu sangat mencengangkan..

Lelaki tua itu hanya tersenyum melihat rasa takut di wajah-ku..
Aku menelan ludahku melihat penisnya yang hitam itu, tanpa sadar dia menarik celana jeans-ku, beserta celana dalam-ku sekaligus..Bahkan saat itu aku tidak sempat bereaksi apa-pun...

Kini kemaluan ku yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak terlalu lebat itu terlihat oleh-nya..Aku segera bereaksi dengan menutupi kemaluanku dengan kedua tangan-ku.."Kenapa ditutupin manis??,Bis di cukur ya koq bulu-nya dikit banget.."katanya sambil tertawa..Perkataan-nya membuat wajah-ku memerah, aku menyimpan kebencian yang mendalam pada pria ini, seumur hidup-ku baru kali ini aku dipermalukan...

Lelaki tua yang bahkan namanya tidak kuketahui itu, menarik lengan kanan-ku..Kumis dan jenggot-nya yang lebat itu, menambah rasa geli ku. Lelaki buncit yang mungkin sudah seumur papi-ku itu, begitu bernafsu mengerayangiku, sapuan-sapuan lidahnya diseluruh tubuh-ku, membuat sebagian tubuh-ku basah oleh ludah-nya,...Nafas dan bau badanya yang menyengat sangat menusuk hidung-ku, namun sebuah gairah terlarang malah muncul...

Tangan-nya yang begitu kasar menjarahi seluruh tubuhku, bahkan terkadang lelaki itu menampar dan menarik payudara ku, tanpa sadar aku mendesah oleh perlakuan kasar-nya padaku...

Tak lama kemudian, perhatiannya mulai tertuju pada daerah 'V' ku, tangan-nya yang bulat besar itu , mulai menggesek-gesek kemaluan-ku permainan-nya jauh berbeda dengan permainan teman-temanku, yang lembut namun pria ini betul-betul tidak menganggap ku manusia, permainan-nya sungguh kasar..

Dia terus mengelus-ngelus klitoris-ku, permukaan ku yang belum terlalu basah itu membuatnya menggunakan ludahnya sendiri untuk memperlancar aksinya, sungguh menjijikan,

Setelah puas bermain dengan clitoris-ku, dia mulai menusuk-nusukan telunjuk-nya ke liang kewanitaan-ku, hal yang selama ini belum pernah kualami...

"Jangan pa...saya mohon" Rintih-ku memohon belas kasihan-nya..Namun bandot tua ini hanya tertawa sambil terus berusaha memasukan jarinya ke lubang-ku yang masih sempit,...Rintihan-ku sama sekali tidak membuat-nya kasihan justru malah menambah nafsunya,...

Akhirnya dia berhasil menembus benteng pertahanan-ku,..Dia semakin kesetanan, dijelajahinya seluruh ruang di dalam vagina-ku itu,..Dia semakin tak terkendali, jengutan, tamparan dan cakaran yang kulakukan sebisaku, tidak membuatnya berhenti, bahkan untuk sesaat.. Justru dia mulai menjilati dan megigiti puting susu-ku, birahi yang kurasakan semakin dahsyat..

Beberapa menit kemudian, aku hanya bisa pasrah dengan perlakuan-nya, selain tubuhku yang masih lemah karena mabuk, aku-pun mulai menikmati permainan-nya...Bahkan ada sensasi aneh yang mulai muncul dalam batin-ku...

Perasaan ingin meledak itu makin kuat, seluruh tubuhku mulai mengeras, menyadari hal ini bandot tua itu hanya tertawa, dan mempercepat aksinya...Tiba-tiba perasaan meledak itu tak tertahan-kan lagi..Otot-otot seluruh tubuh-ku mengelinjang sesaat, "Ooooooooo..................." Erang-ku tak tertahankan lagi...Cairan cintaku meluncur deras tak tertahankan, ini adalah organsme pertama dalam hidupku, suara tawa bandot itu memenuhi ruang itu, tampak rasa kemenangan didalam tawa-nya itu...

"Katanya ga mau manis, Tapi koq ampe muncrat gitu sich, mank mem3k cina paling mantap ya..." Ejeknya.."Bajingan, puas hah??Lepasin gue.." bentak-ku, walau dengan nafas yang tersengal-sengal, bahkan tubuhku terasa sangat letih,...

Sebuah tamparan kembali mendarat di pipiku dan sebuah jengutan di rambut panjang-ku pun kini melengkapi penderitaan-ku.." Enak aja lu, gw bwlom puas nich, buruan lu sepongin gw!!!" Hardiknya, "Oral sex????" pikirku, itu sama sekali belum pernah kulakukan..Berbagai alasan untuk menolaknya tidak berhasil membuatnya mengurungkan niat-nya..Bahkan dia malah menampar-ku beberapa kali..

Dengan air mata yang sudah turun ke-pipiku aku pun terpaksa menuruti kemauan-nya...akupun menahan rasa jijik-ku dan mulai memasukan kemaluan yang gemuk itu kemulut-ku, sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, beberapa menit hanya naik turun sebisa-ku, membuat kesabaran bajingan tua ini habis, dia mulai memperkosa mulut-ku, aku yang kaget dan tak siap berusaha untuk melepaskan diri, namun jenggutannya kembali membuatku menghentikan niat-ku..

Lelaki itu terus memompa mulutku, bahkan dia tidak perduli, saat terkadang sodokan-nya menyentuh kerongkongan-ku, yang membuat-ku terbatuk-batuk, dia masih saja memperkosa mulutku, tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk-ku, bahkan untuk bernafas...

15 menit kemudian, aku merasakan penis-nya mengeras dalam mulut-ku, aku tahu dia akan segera meledak, berbagai usaha untuk melepaskan diri untuk menghindari dia meledak di mulutku gagal, dia jauh lebih kuat, dan brutal dari-ku...

Dia pun meledak dimulutku, sebagian sperma-nya yang bau itu, meluncur langsung ke tenggorokan-ku, dia segera berbisik padaku "Jangan dibuang ya manis, atau lu mau gua hajar", Orang ini tidak pernah main-main dengan perlakataan-nya..Dengan rasa takut aku berusaha menelan seluruh sperman-nya yang bau dan kental itu,..

Bandot tua ini kembali tertawa kemenagan, wajah-nya semakin memperlihatkan ekspresi yang meremehkan-ku, tak lama dia turun ke lantai dan melebarkan kedua kaki-ku, dia kembali mengoreki vagina-ku, bahkan kali ini dia menjilatinya, sensasi dahsyat kembali muncul, aku tak sanggup untuk menahan desahan-ku,...

Hanya beberapa menit aku sanggup bertahan menghadapi sapuan lidahnya yang expert, pengalaman orang ini jauh berbeda dengan-ku,...Aku mulai menyerah pada permainan-nya, tubuhku kembali terasa ingin meledak, aku pun tak sanggup bertahan lama...

"Ooooooohhhhh...." desahku panjang, namun orang ini tidak membiarkan begitu saja, dia bahkan menutup clitoris-ku dengan jempolnya, yang membuat cairan cintaku tersumbat, kesakitan yang sangat pedih melandaku, vagina-ku terasa sangat penuh...setelah beberapa saat bajingan laknat itu baru melepaskan jempolnya, dan membiarkan cairan cintaku turun...Aku hanya sanggup bernafas lega dengan nafas yang tersengal-sengal...

Kini penis gemuk-nya yang tadi tertidur itu sudah kembali membesar ( bahkan mungkin lebih besar dari pertama tadi ), Bandot ini, tersenyum dan menciumku, aku hanya membalasnya dengan pandangan jijik, kembali tangannya menginvasi kemaluan-ku namus tak lama, sesaat sebelum dia menghantamkan kemaluan-nya, dia masih sempat mencium-ku..

"Aaaaaaaa, ampun Tuhan......." Kemaluan itu tak dapat masuk seluruhnya, ini kemaluan terbesar yang pernah kurasakan, namun bandot tua ini tak berhenti sampai situ..Dia terus melakukan usah-usaha brutal untuk memasukan seluruh kemaluan-nya "Sempit banget sih nih perek, padahal udah basah banget" Bisaiknya, Brengsek dia bahkan masih berpikir bahwa aku pelacur murahan..

Akhirnya dengan nafsu yang tak tertahan lagi, dia menusukkan kemaluan-nya itu dalam kemaluan-ku, Jeritan yang tadi sempat tertahan dalam kerongkongan-ku tak tertahan lagi, Dengan senyum kepuasaan dia mulai mengerjaiku, goyangan-nya yang tak beraturan membuat ku menjerit kesetanan...

Belum lagi lidahnya yang terus menyapu leherku, dan permainan tangannya yang kasar kepada 2 payudara-ku membuat sensasi yang dahsyat dalam diriku, Ledakan organsme tak tertahankan, organsme-demi organsme mewarnai 20 menit bajingan ini mengerjai-ku dalam posisi standard...

Bandot ini tiba-tiba menarik keluar kemaluan-nya, aku segera menutup mataku bersiap dengan semprotan air mani-nya...Namun dia ternyata masih jauh dari itu.. Dia segera menyuruh-ku untuk menunggiang, kini dia ingin mengerjaiku seperti ******...Kemaluan-nya kini kembali memasuki tubuh-ku, kali ini tidak sesulit tadi namun masih terasa sangat perih...

Sambil menarik rambut-ku dia terus menggenjotku, bahkan sesekali dia menampar bokongku..Aku kembali berorgansme untuk kesekian kalinya..Dia tak memberi kesempatan sedikitku untuk bernafas, seluruh tubuh kami sudah penuh oleh keringat....

10 menit kemudian, kurasakan tiba-tiba penisnya mengeras, aku berusaha melepaskan diri, namun bajinagan ini malah memeluk-ku erat-erat..Tangisku tak tertahan lagi, orang ini mau menembak dalam rahim-ku, dia pikir aku pelacur yang meminum obat anti hamil...

Disertai dengan lolongan keras dia memuntahkan muatan-nya dalam rahim-ku, semburan mani-nya itu memancingku untuk kembali berorgansme kecil...Kemudian dengan perasaan tidak bersalah dia melepaskan kemaluan-nya dari vagina-ku dan berdiri, meninggalkan-ku yang menangis di ranjang..

Dia berjalan mengambil air minum, dan membuka laci meja didekatnya,..Aku melihat dia membuka sebuah Kondom, aneh sekali kondom itu, dengan duri-duri kecil di sekelilingnya...Setelah memakai kondom itu dia kembali ke arahku...Orang ini gila pikirku, setelah menyemburkan muatan-nya dalam rahim-ku kini dia malah memakai kondom...

Namun pertanyaan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk terjawab...Dia mulai mengoreki lubang duburku, bahkan dia meludahi lubang itu..Rasa takut menghinggapiku seketika... " Tolong pak, saya mau menyepong bapak, atau bapak boleh menyetubuhi saya lagi...Tapi saya mohon jangan disitu" Mohonku dengan air mata yang menggenang..."Gue udah bayar lu untuk all-in manis, gak usah takut, lu bakal belajar menyukai-nya, Ok" Jawabanya yang bernada datar, bagaikan petir di telinga-ku...Aku pun menangi sejadi-jadinya...

Aku berusaha memberontak semampuku, namun tamparan demi tamparan kembali menghentikan aksi-ku,..aku hanya pasrah terkulai saat dia kembali membalik tubuhku dan kembali mengorek anus-ku, dengan menggunakan sedikit cairan vaginaku, dia mulai melancarkan aksinya untuk menyodomi ku, rintihan ku tak menyurutkan aksinya..Kembali dengan sangat brutal di mulai memperkosa anus-ku...

Sungguh perlakuan yang tak bermoral, anusku pun sedikit demi sedikit terbuka, namus rasa perih karena penggunaan lubang yang tak seharusnya itu tak hilang...Dengan seluruh tenaganya, dia berhasil juga untuk memasukan penis itu ke anusku, aku merasakan perih yang tak terkira, air mata dan darah segar dari anusku, hanya terbalas oleh tawa bandot tua itu.

Dia mulai memompa anusku dengan seluruh nafsu yang dimilikinya,.."Ooo fuck yesss....Oh my god..." desah-ku tanpa sadar, aku tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang kurasakan lagi, dia kembali mempermainkan payudara-ku, bahkan terkadang tangan-nya mepermainkan vagina-ku, hal itu semakin menambah kenikmatan-ku,...

Organsme-demi organsme kembali melanda tubuh mulusku yang letih ini...Pantatku yang putih bersih kini berwarna kemerahan akibat tamparan-tamparannya..Tak lama kemudian dia kembali melolong panjang akhirnya dia memuntahkan amunisinya...Akupun dapat bernafas lega..

Tapi itu bukan akhir segalanya,..Aku yang tidur terlentang menghadap bandot tua itu, dengan sengaja di mencabut kondom antiknya itu di tubuh sambil menggerakannya ke wajah-ku, kini seluruh tubuh-ku tergenangi oleh cairan mani bandot itu...

Kemudian sambil tersenyum dia memoles seluruh tubuhku dengan maninya, bahkan dia memoles wajahku juga, wajahnya begitu terpauskan melihat airmataku, dan wajah-ku yang tak berdaya...Setelah puas mempermalukanku..Dia berdiri dan menuju kamar mandi, Tak lama terdengar bunyi air, dalam keadaan masih sesengukan dan tubuh yang lemah, aku pun tertidur kelelahan...

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Pukul 8 pagi aku terbangun, seonggok uang 2 juta rupiah terpampang di meja rias,dengan disertai no.telp untuk menghubungi bandot tua itu lagi. Akupun mencari tasku yang untungnya berada di meja, beserta kunci mobil-ku,Ternyata aku masih berada di Hotel yang sama dengan Club-ku semalam..Setelah mandi sebersih-bersihnya untuk mengurangi rasa letih, dan rasa sakit yang teramat sangat di duburku, bayangan-bayangan perkosaan semalam kembali muncul, disertai hasrat untuk kembali mengulanginya..Tak lama aku melihat ranjang bekas pertarungan semalam yang masih berbau menyengat karan Peju, cairan cinta dan keringat kami semalam, bahkan sebercak darah diatasnya..Akupun segera berpakaian dengan tujuan segera lari dari mimpi buruk ini...

Tak lama aku pun meluncur pulang kembali ke kost-ku, aku pun tertidur lemas, kemalaman harinya, tanpa rasa berdosa Adhie datang ke tempatku, memberikan "Bagianku", Dan dia mengancamku, bahkan berencana menjual-ku..Aku pun tak kuasa untuk tidak mengiyakan-nya, demi menjaga kerahasiaan ini..Stelah dia mengambil foto-foto bugil ku untuk di jual, dia kini meminta jatah-nya.Aku tak dapat mengelak lagi dan terpaksa melayaninya..Setelah puas di meninggalkan ku tergolek lemah di ranjang-ku sendiri..

cerita sex gadis SMA yang sangat menggairahkan

 cerita sex gadis SMA yang sangat menggairahkan - Seorang gadis berusia 19 tahun inilah yang menjadi Berita Terbaru yang coba kami sediakan ceritanya kali ini, Cerita seorang gadis cantik ini menceritakan mengenai seorang Gadis SMA yang terlihat cantik dan gaul diantara teman-teman sebayanya, Dan tidak heran banyak laki-laki seusianya yang coba mendekati. Nah bagaimana kelanjutan dari kisah sebenarnya dari gadis berusia 19 tahun ini.??  Untuk kelengkapan Cerita Sex Dewasa ini langsung saja anda simak berikut ini :

Cerita Panas Dewasa

Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya \'gaul abis\'. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.

Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih \'jomblo\'. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.

Acara ke Puncak kami mulai dengan \'hang-out\' disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.

Adegan ciuman itu bertambah \'panas\' mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.
"Jangan To" tolak Andra.
"Kenapa sayang" tanya Vito.
"Aku belum pernah.. gituan"
"Makanya dicoba sayang" bujuk Vito.
"Takut To" Andra beralasan.
"Ngga apa-apa kok" lanjut Vito membujuk
"Tapi To"
"Gini deh", potong Vito, "Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti"
"Janji ya To" sahut Andra ingin meyakinkan.
"Janji" Vito meyakinkan Andra.

Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.
"Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too"
Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.

Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.

Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. "Jangan To, katanya cuma cium aja" sergah Andra.
"Rileks An" bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.
"Tapi.. To.. oohh.. aahh" protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.
"Nikmatin aja An"
"Ehh.. akkhh.. mpphh" Andra semakin mendesah
"Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi"
"He eh To.. eesshh"
"Enak An..?"
"Ehh.. enaakk To"
Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan \'live\' seperti itu.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.
"Aku masukin ya An" pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.
"Aakhh.. To.. eengghh" erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.
Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.
"Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg" Andra meracau.
"Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh"
"Aku juga suka kamu isep To.. ahh" Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.
Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

Vito tahu Andra sudah pada situasi \'point of no return\', ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.
"Auuwww.. To.. sakiitt" jerit Andra.
"Stop.. stop To"
"Rileks An.. supaya enak nanti" bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
"Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin"
Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.

Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.
"Uhh.. ohh.. To" desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.
Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.
"Agghh.. ohh.. terus Too" Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.
"Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too" Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.

Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.
"Ssshh.. sshh" desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat \'life show\' Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.
"Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii" Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
"Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya"
"Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too"
"Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh"
"Ohh.. Too.. aku sayang kamu.. sshh" desah Andra seraya memeluk, pujian Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.
"Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh" merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
"Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang" pekik Andra.
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.
"Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh" erang Andra.
Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.

Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.

Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.

Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan \'live show\' yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap \'segitiga venus\' yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.

"Ssshh.. sshh.. aahh" desis Susi.
"Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang"
"Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt"
"Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa"
Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.

Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.
"Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg" desah Kelvin.
"Ohh.. sayangg.. enakk sekalii"
Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.
"Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg" pinta Kelvin.

Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. "Aaagghh" keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.

Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan \'live show\' bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.
"Aaahh.. sshh.. eehh" desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.
"Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?" sapa Susi terkejut.
"Iya Si.. balik lagi.. perut mules"
"Aku suruh Kelvin beli obat ya"
"Ngga usah Si.. udah baikan kok"
"Yakin Ver?"
"Iya ngga apa-apa kok" jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.

Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar VCD X-2. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahanku.
"Kenapa Ver, gelisah banget horny ya" tegurnya bercanda.
"Ngga lagi, ngaco kamu Ton" sanggahku.
"Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita" Andri menimpali.
"Rese\' nih berdua, nonton aja tuh" sanggahku lagi menahan malu.

Toni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.
"Santai Ver, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal" bisik Toni sambil meremas pundakku.
Remasan dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.
"Remas aja paha aku Ver daripada rok" bisik Toni lagi.
Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang \'geboy\' saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Toni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.
"Ngga usah malu Ver, santai aja" lanjutnya lagi.
Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang \'wow\' kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin menjadi-jadi.
"Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu" bisik Toni seraya mengecup pundakku.
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.
"Jangan Ton" namun aku berusaha menolak.
"Kenapa Ver, cuma pundak aja kan" tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha \'jaim\'.
"Ton.. ahh" desahku tak tertahan lagi.
"Enjoy aja Ver" bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.
"Ohh Ton" aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat \'live show\' dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.
Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.

Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.
"Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh" desahanku bertambah keras.
Andri menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.

"Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh" desahanku berganti menjadi erangan-erangan.
Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.
"Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii"
"Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi" bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.
Mendengar kata \'lebih lagi\' aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andri-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.
"Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh" jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.

Toni dan Andri menyudahi \'hidangan\' pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai \'hidangan\' utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.

"Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh" rintihku tak tertahankan lagi.
Toni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.

"Jilat.. Ver" perintahnya tegas.
Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.
"Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh" desah Andri.
"Jilat kepalanya Ver" aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.
"Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep" pintanya diselah-selah desisannya.

Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.
"Jangan pake gigi Ver.. isep aja" protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.
"Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver"
Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.

Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..
"Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr" jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.

Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.
"Gila Andri.. kira-kira dong" celetukku sambil bersungut-sungut.
"Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget" jawab Andri dengan tersenyum.
"Udah Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka" sela Toni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.
Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.

Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni.
"Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh" desisku tak tertahan.
"Teruss.. Tonn.. aakkhh"
Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.
"Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh" desahanku semakin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.

"Aauugghh.. Tonn.. pelann" jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.
Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.
"Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn" desahku lirih.
Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.
"Enak.. Ver" tanya Toni berbisik.
"He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh"
"Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi" bisiknya lagi.
"Ooohh.. Tonn.. ngghh"

Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kejantanannya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.
"Auuhh.. sakitt Tonn" jeritku saat kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.
"Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya" bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.
Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku.

Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.
"Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh" desahku tak tertahan.
"Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh" puji Toni diantara lenguhannya.
"Agghh.. terus Tonn.. teruss" aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.
Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.
"Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn" jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.
Tubuhku mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.

Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.

Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.
"Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus" erang Toni.
Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini.

Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.
"Isep Ver" pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.
"Ooohh.. enak Ver.. isep terus"
Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan Andri-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melakukan semua itu.

"Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh" erang Toni.
Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.
"Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss.. telan Verr" jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi \'doggy\' dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.
"Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh"
"Enak banget Drii.. aahh.. oohh"
Mendengar eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.

Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.
"Andrii.. kenapa dicabutt" protesku.
"Masukin lagi Dri.. pleasee" pintaku menghiba.
Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.
"Andrii.. pleasee.. jangan disitu" aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.
Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya.

"Aduhh sakitt Drii.. akhh..!" keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.
"Rileks Ver.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya" bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.
Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.
"Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii" erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.
Andri dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.

Toni yang sudah pulih dari \'istirahat\'nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.

"Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann" jerit dan erangku tak karuan.
Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.
"Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii"
"Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett"
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria..